Translate

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label KEMAHASISWAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEMAHASISWAAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 April 2017

HMI Yang Tertimbun Sejarah



Himpunan Mahasiswa Islam sudah semakin renta sejak kelahirannya pada 5 Februari 1947 silam. Organisasi ini bukan komunitas maupun organisasi abal-abal yang surut dari pergulatan antar kelompok kemahasiswaan baik pemikiran, gerakan dan pembaharuan. Trend dan klaim keislaman dan keindonesiaan yang modern menghantarkan HMI sampai di titik kulminasinya dari sederet organisasi mahasiswa eksternal yang tersisa.
Mungkin hasil yang dipetik adalah pembibitan, pemupukan oleh kader-kader militan di masa lalu. Dirasa memang dedikasi mereka berikan dengan penuh ketulusan serta komitmen terhadap cita-cita luhur sedari HMI mulai meniti kiprahnya hingga terlibat aktif dalam pergerakan keislaman-kemahasiswaan-keindonesiaan Republik Indonesia. Itu menegaskan bahwa HMI adalah anak sah dari Republik ini dan diperuntukkan bagi umat.
Orientasi yang mendasar bagi HMI adalah menghasilkan Muslim Intelektual dan Intelektual Muslim (Sitompul Eds., 2008:485), tidak heran HMI memiliki segudang intelektual muda yang siap men-supply gagasan dari berbagai bidang yang realistis bagi internal maupun eksternal. Derap langkah HMI selalu mencuri perhatian publik, bukan hanya hanya mahasiswa dan perguruan tinggi saja, melainkan juga segenap potensi umat Islam dan rakyat Indonesia. Hal ini menandaskan bahwa HMI tidak pernah berjuang sendiri.

Rahim HMI di masa lalu sanggup menghasilkan tokoh-tokoh sekaliber M. Dahlan Ranuwihardjo, M. Dawam Rahardjo dan Ridwan Saidi. Kendati di antaranya bukan berasal dari Perguruan Tinggi Islam (PTI) tetapi mampu berbicara mengenai Islam dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengannya. Tak jarang juga tulisan dari pemikiran mereka dimuat dalam jurnal Ulumul Qur’an (Sitompul Eds., 2008:622).

Imaduddin (ITB), Amien Rais (UGM), Syafii Ma’arif (UNY), Abdullah Hehamahua, Nurcholish Madjid (UIN Ciputat)  atau yang kerap disapa Cak Nur sebagai Bapak Lokomotif Pembaharuan Indonesia yang memberi sumbangsih cukup besar terhadap ideologi (Nilai-nilai Dasar Perjuangan) HMI bersama Endang Syaefuddin Ansari (Unpad) dan Sakib Mahmud (ITB) yang masih layak guna hingga sekarang, maupun napak tilas gagasan segar seputar Keislaman dan Keindonesiaan lainnya bagi Republik  ini.
Bisa dilihat pula riwayat keberanian dari Munir Said Thalib (Univ. Brawijaya) atau Cak Munir yang meneriakkan kegelisahan kaum mustadh’afin,  serta perlawanannya menentang kedzaliman melalui sisi-sisi hak kemanusiaan. Beberapa nama ini sangat santer dibeberapa kalangan aktivis seantero Nusantara.
Beberapa tokoh yang cukup berimbang antara keilmuan dan gerakan, itu hanyalah sederet nama dari banyaknya produk masa lalu yang tidak mungkin diulas satu persatu. Yang terpenting adalah hal itu menjadi alarm bagi kita selaku kader HMI di era kekinian. Kalau pada masanya, mereka menjadi mesiu keilmuan dan gerakan, bagaimana masa kini? Tentu jawabannya variatif, tapi sadar atau tidak sejarah telah merekam semua yang terjadi.
Decak kagum saya selalu berseling tanda tanya, “apa yang ada di generasi terdahulu sehingga mampu membesarkan HMI”?. Pikiran sempit saya ketus berseloroh, “boro-boro membesarkan HMI, justru kita kadang-kadang menjadi sampah HMI dan Republik ini”.

Mungkin salah satunya, generasi terdahulu masih berpegang teguh terhadap independensi yang ada di HMI. Dengannya mereka menjadikan HMI adalah organisasi mahasiswa Islam yang heterogen tanpa diklaim organisasi dibawah partai, kelompok tertentu, sehingga HMI memiliki daya tawar yang mahal dan diacungi jempol. Sebenarnya memang HMI tidak pernah mengajarkan bahwa independensi yang ada di HMI adalah sebuah jargon semata, ia merupakan kepribadian dalam berjuang.
HMI tidak ingin mengapus catatan sejarah yang ada padanya, maka HMI dituntut untuk terus menanamkan benih agar tetap menumbuhkan tunas muda HMI dengan menjalankan ritme perkaderan sebagai kunci keberlangsungan organisasi mulai dari training formal hingga non-formal, dari tingkatan Pengurus Besar sampai pada Komisariat tingkatan kampus sebagai pembasisan ideologi. Terlebih dalam  soal perkaderan, HMI bisa dibilang cukup matang, dibanding organisasi kemahasiswaan lain yang mati di tengah perjalanan saat menjemput pucuk kemapanannya. Hal ini adalah pertanda bahwa HMI lulus dari ujian sejarah.
Sistem yang terus berjalan dari dulu hingga kini, menghasilkan volume anggota HMI yang terus bertambah dan merambah ke seluruh pelosok tanah air dari Sabang hingga Merauke. Kondisi itu terkadang tidak dibarengi dengan kualitas yang mumpuni. Ini adalah salah satu hal yang membuat HMI di masa kini jarang menjawab problematika zaman.
Rasa-rasanya HMI tidak lagi seheroik dulu, bermula dari gerakan yang reaksioner berdasarkan “orderan politik abang-abang atau gara-gara sekedar urusan uang jajan”. Apalagi fenomena baru-baru ini, HMI terlibat di Pilkada Jakarta mulai dari yang “oke oce” sampai yang mengatasnamakan “bela Islam hingga bela kebhinekaan”.

Mungkin, itu sedikit menggambarkan HMI tidak “pede” dengan independensi yang dimiliki atau karena politik etis abang-abang ala kolonial. Tapi sejak kapan HMI kontra-produktif terhadap kemerdekaan individu dan institusi? Optimisme untuk nasib HMI ada di tubuhnya sendiri.
Tidak berhenti sampai disitu, kemerosotan intelektual menjadikan HMI rapuh dan gagap untuk menjawab problematika yang datang. Mulai dari miskin solusi dan gagasan realistis, bahkan hingga tidak mengetahui apa yang menjadi akar persoalan. Justru kepribadian HMI dibentuk karena corong intelektual. Kalau ia sudah memudar, kemana HMI harus bersandar?
Di sisi lain, soal keislaman di HMI juga semakin redup, tak jarang terhenti di seputar pengetahuan. Tidak berdaya untuk membuat iklim spritual yang sehat. Padahal bukankah spiritual tak sekedar pengetahuan belaka? Ia bermakna membenarkan dengan hati, mengakui dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan.Imam Syafi’i R.H. juga menandaskan bahwa ini adalah ijma’ ulama (kesepakatan kolektif) (Shalih, 2012:147).
Harusnya HMI sadar bahwa manusia merupakan makhluk dwi dimensi yang terdiri fisik dan metafisik yaitu jasad, akal dan roh. Kesemuanya perlu diasah dan diasuh, semua perlu mendapat porsi pengembangan yang memadai “Three in One” (Shihab, 2005:155). HMI memang ingin membangun peradaban, tapi peradaban tidak akan terbangun jika hanya sekedar ilmu pengetahuan yang tidak disandarkan kepada spritual.
Tantangan dari setiap generasi mungkin berbeda, dan tulisan ini bukan hendak menyeragamkan persoalan dan keadaaan. Namun, dikarenakan melihat pada narasi historis masa lalu HMI yang mengagumkan. Hal itu bukan berarti mengesampingkan masa depan. Penulis juga tidak ingin selalu berada pada kondisi itu, karena kita harus beranjak ke masa yang lain. Toh, tanpa membahas aspek historis pun HMI akan selalu berjalan melewati peralihan waktu.

Tapi ada memo yang sangat penting, bahwa pada rentetan masa lalulah yang mengantarkan keberadaan HMI di masa kini. HMI kini sepertinya lupa terhadap kedigdayaan HMI di masa silam. Kegagalan HMI masa kini dalam menerjemahkan historis besar masa lalu merupakan lampu kuning yang patut diwaspadai. Mungkin sesekali kita tengok yang lalu untuk mengambil sikap tegas di masa depan untuk kebaikan dan kemajuan himpunan agar tidak kehilangan identitas. Setiap kemungkinan selalu ada harapan bagi kebangkitan HMI karena kebangkitan bukanlah sebuah mitos! (*)

Selasa, 10 Mei 2016

Liberalisasi Diri

Gambar terkait
Logika pemikiran yang terjebak dalam framing yang konservatif apalagi militeristik menyebabkan matinya prinsip nalar berpikir bebas dan menghambat semangat pembaharuan karena belenggu belenggu tradisi yang belum tentu berpihak kepada hal-hal yang benar. Pada masa enlightenment salah satunya John Lock dan Mountesquieu berhasil memberikan stimulus semangat pembaharuan terhadap Revolusi Amerika Serikat dan Perancis pada Tahun 1700an untuk menentukan nasib bangsanya sendiri, bahwa setiap bangsa dan anak manusia memiliki hal yang fitrah yaitu kemerdekaan disertai hak kebebasan dalam menentukan setiap pilihan yang di ambil.


Melihat persoalan intelektual hari ini para penggelut akademis di tataran perguruan tinggi nampaknya tidak memahami literasi-literasi secara benar, holistik dan komprehensif. Ini bukan bagian dari nuansa akademis yang sehat, karena sudah tidak lagi berpedoman kepada hal-hal yang kooperatif dan kompetitif untuk membangun peradaban yang didambakan oleh setiap generasi bangsa. Persoalan ini tengah menjadi sorotan bersama serta menjadi kegelisahan yang dirasakan kita semua sebagai penggelut intelektual.

Di civitas akademik faktual yang terjadi dengan membenarkan berbagai sosio-kultural yang cenderung bersifat senioristik, premanisme lebih dikedepankan. Naif rasanya alih-alih intelektual dan pembaharuan yang digembar-gemborkan nyatanya memerdekakan diri sendiri dengan menentukan pilihan sendiri saja tak memiliki daya dan upaya. Patronasase yang senioristik dan premanisme yang diteguhkan hari ini nampaknya telah usang, karena kita bukan lagi hidup di zaman kolonialisme yang membelenggu nalar kritis.

Dalam Peran Dunia 1 Woodrow Wilson dan Norman Angell telah menyampaikan gagasan pentingnya yang harus kita ilhami bersama bahwa manusia adalah makhluk yang rasional, tentu bersandar pada kondisi yang objektif tanpa diselingi hal-hal yang subjektif, hal ini yang justru mengembalikan kita kepada masa kejumudan ( krisis berpikir ). Mari hilangkan segala bentuk kolonialisme di civitas akdemik perguruan tinggi, untuk tetap menjaga marwah intelektual dengan memerdekakan setiap individu berdasarkan haluan dan pijakan yang ditempuh. Mengutip apa yang menjadi jargon Tentara Nasional Indonesia (TNI) "Jangan membenarkan kebiasaan, tapi biasalah benar". Kami tidak sudi dipimpin oleh pemimpin yang tidak merdeka, apalagi ingin memerdekankan kami yang dipimpin. Yang kau tawarkan bak omong kosong di tengah gemuruh angin ribut ! 

Kampus Bertajuk Politik

Hasil gambar untuk kampus politik
Nuansa civitas akademik FISIP Unpas semakin menarik melihat dinamika politik seperti magnet yang saling tarik menarik. Belakangan ini parpol kampus dan mahasiswa seolah tersentral pada apa yang dinamakan politik. Itu menjadikan beberapa di antara kita kian matang secara empirik dalam memahami realitas sosial. Ketika kita dihadapkan pada periodisasi politik kampus, berharap bahwa ini bukan seremonial yang berulang tanpa arah dan tujuan.


Mahasiswa bukan hanya sebagai objek dalam proses politik yang ditandai sebagai floating mass. Mereka justru bagian subjek, yang diyakini sudah cukup mapan pula untuk beraktualisasi didalamnya. Mereka pun juga bukan segmen pasar yang pantas untuk dieksploitasi demi kepentingan politik, karena marwah ilmiah dan rasional selalu melekat padanya. Tentu sikap yang diambil bukan lagi warna-warni yang abu. Keabu-abuan justru akan menstimulasi sejumlah kelompok kepada alternatif-alternatif yang kurang tepat.

Di momentum Pemira (Pemilihan Umum Raya) seperti ini, partai politik kampus sebagai infrastruktur (middle class) menjadi penghubung mahasiswa menuju suprastruktur (kelembagaan kampus). Ini adalah miniatur sistem kenegaraan yang dielaborasi pada sistem tata-kelola lembaga kemahasiswaan FISIP Unpas. Pada pesta demokrasi ini pula, euforia politik begitu terasa. Banyak wacana politik yang dilontarkan dan ditawarkan partai politik melalui kandidat atau delegasi partai yang bakal menduduki lembaga legislatif dan ekskutif. Namun sayangnya situasi seperti ini terjadi sangat singkat. Kegaduhan, riuh-rendah, serta duel wacana politik, terkadang hanya selesai di momentum pemilihan saja. Tidak ada kontrol dan edukasi politik yang sustainable dan simultan pasca-pemira, begitu pun pra-pemira. Seperti ada proses politik yang loncat dari pada hierarkinya.

       
Hal demikian tentunya berdampak pada tingkat partisipasi mahasiswa dalam aktualisasi teori ruang kelas di kelembagaan kampus. Partai politik yang hanya bergerak jelang Pemira, malah akan melahirkan mahasiswa yang menyuarakan suaranya namun lepas dari busurnya, hanya mengkritik tapi tak ikut serta dalam berbenah. Mereka dengan lantang bersuara tapi tidak tahu salurannya. Bagaimana bisa membangunkan mahasiswa yang tertidur untuk berbenah di rumah sendiri? Terkadang celotehan hanya berujung pada sikap apolitis yang tak berkhasiat. Ini bukan cuap-cuap burung gereja disaat fajar, karena khalayak umum pun bisa melakukan proses yang demikian. Lalu dimana letak "maha" atas "siswanya"?
       
Momentum demokrasi ini adalah pertarungan wacana atau gagasan progresif yang ideal antara aku, kamu, kalian dan mereka yang berstatus mahasiswa. Berharap gagasan atau wacana ini tak berhenti dalam alam ide, karena kita bukan bangsa utopian. Semangat konstruksi harus tetap tertanam sejak di alam ide dan diformulasikan dalam tindak-tanduk yang konkret. Kita bukan buih di lautan, karena kedaulatan ada di pundak kita bersama, kewajiban dan hak selalu berpadu.
          
Maka jika ingin membangun dan berbenah dirumah sendiri, harus melibatkan semua komponen yang berstatus mahasiswa tanpa dipolitisasi oknum dosen maupun birokrat kampus. Jika semua komponen terlibat, wacana atau gagasan murni dan fair akan menghasilkan input dan ouput yang jelas bagi mahasiswa dalam mengarungi dunia akademis, sesuai cita-cita Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berwujud pendidikan, penelitian-pengembangan dan pengabdian masyarakat.
          
Peran partai politik harus di-revitalisasi sebagaimana fungsi dan perannya dalam edukasi dan kontrol politik pra-pemira dan pasca-pemira, sehingga tidak ada lagi kesan pembodahan dalam prosesnya. Partai harus sadar akan hak dan kewajiban yang harus ditunaikan. Wacana atau gagasan harus direalisasikan secara serius, agar tidak terkesan hangat dan menguap begitu saja. Tentunya hal ini dapat dilakukan oleh pemangku kebijakan atau elite-elite lembaga yang telah diamanahkan sebagai representasi mahasiswa.
       
Boleh lah, partai politik saat ini sudah cukup mewadahi mahasiswa untuk beraktualisasi. Tapi, peranan tidak boleh sebatas rekrutmen saja. Parpol kita mesti mewujudkan harapan mahasiswa dalam fungsi komunikasi politik, pendidikan politik, agregasi politik, dan kontrol politik. Jika semua fungsi dijalankan, maka bukan tidak mungkin mahasiswa FISIP Unpas akan menjadi sekumpulan orang terdidik yang mau bergerak tidak hanya bersuara, mereka yang berbeda dengan khalayak umum. 
        
Orang terdidik dan baik, adalah orang yang bisa mempertanggungjawabkan apa yang disuarakannya. Mereka akan merasa anti terhadap kedzaliman. Dari sini tepatlah kekhawatiran Anies Baswedan tentang kaum terdidik. “Orang-orang baik tumbang bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena banyaknya orang baik yang diam dan mendiamkan.” Ayo, nyaringkan suaramu dengan lantang dan tandaskan gerakanmu. Lambat tertinggal, diam tertindas, berhenti mati!