Translate

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label STUDI GERAKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STUDI GERAKAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Januari 2018

Mengapa Risau dengan Semangka?


Image result for semangka cartoon
Tulisan ini adalah sebuah timpalan atas tulisan saudara kami kakanda Ibnu Arsib asal Cabang Medan yang di publis melalui blog pribadi yang berjudul “Secangkir Kopi Tentang Komunisme” dan "Jangan Menjadi Kader Semangka". Ada beberapa ulasan yang hendak digaris bawahi pada konten tulisan tersebut.

Harus diakui bahwa HMI dan Komunisme di Indonesia mengalami kenyataan sejarah yang cukup pelik nan pahit. Dua poros gerakan dan pemikiran ini pernah mengalami rivalitas yang cukup sengit hingga berdampak gugatan terhadap pembubaran HMI dan Komunisme di Indonesian satu sama lain. Bagi saya kondisi itu adalah tidak lain karena dilatarbelakangi oleh pergulatan  ideologi global, Komunisme vis a vis Liberalisme yang sampai di tanah air, sehingga pertikaian HMI, lebih-lebih umat Islam dan Komunsime Indonesia dipaksa oleh keadaan dunia yang tengah bergejolak.

Menilik melalui materialisme dialektika historis menjadi penting untuk menerjemahkan sejarah Indonesia, termasuk HMI yang turut serta ambil bagian dalam perjalanan sejarah Indonesia kita. Untuk menarik benang kusut sejarah dan menemukan titik temu yang selama ini telah buyar. Menyoal Komunisme dan Islam memang bukan hal sepadan yang bisa dibandingkan begitu saja, barang tentu itu adalah sebuah kecacatan dalam kaidah-kaidah ilmu mantiq atau logika. Islam adalah sebuah wahyu yang lahir atas otoritas Tuhan sedangkan Komunisme adalah buah dari perjalanan nalar manusia.

Komunisme dan anti agama menjadi jargon ulung bagi elit-elit tertentu yang hendak menyetir Indonesia ke kanan (red: istilah Liberalisme). Di samping itu, tuduhan atas anti agama saya menilai, penilaian ini sangat tidak komprehensif. Misalnya mengambil secuil adagium yang dipenggal seperti “agama itu candu”, adalah sebuah hal yang keliru, lagi-lagi tinjauan materialisme dialektika historis juga penting untuk meninjau bagaimana diksi-diksi itu hadir dalam benak pemikir-pemikir kiri.

Tidak dimungkiri Feuerbach misalnya, memang sangat getol mengkritik filosof agamawan skolatisisme semacam Thomas Aquinas dan tokoh idealisme lainnya yang membenarkan berbagai eksploitasi yang dilakukan manusia atas manusia lainnya menggunakan perangkat-perangkat agama, hal tersebut dapat dikatakan mendukung akan keberadaan Kapitalisme di Eropa. Saya yakin para pemeluk agama lain juga cenderung akan melakukan hal yang sama, pada agamawan yang memobilisasi masa untuk kepentingan individu semacam itu.

Membuka peta sejarah negara-bangsa dunia akan menemukan titik temu Islam dan ideologi kiri, misalnya saja negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara, dan Timur jauh yang memiliki penduduk mayoritas muslim sempat terilhami idelogi-ideologi kiri. Di Afrika Utara Mungkin kita akan teringat pada Gamal Abdel Nasser, seorang Presiden Mesir yang berhaluan Sosialisme dan juga mengidolakan Soekarno karena gagasan-gagasan revolusioner yang sangat luar biasa. Di Timur Tengah, Palestina sampai detik ini memiliki partai politik yang berhaluan Komunisme meski tengah dilanda prahara antara one state solution dan two state solution. Di Timur jauh, Indonesia, ada 8 program didirikannya ISDV, cikal bakal PKI 1914, tertulis salah satu misinya adalah “Mempersatukan rakyat, buruh tani dan segala bangsa dan agama atas dasar perjuangan kelas”. Kurang lebih begitu.

Konfigurasi Komunisme dengan di luar Islam juga banyak yang bisa kita jumpai, semisal Munzer, seorang pendeta revolusioner yang menyingkir dari Martin Luther yang mendukung raja Jerman dalam memerangi petani. Sampai-sampai Munzer menuai pujian oleh Engels sempat dituliskan bahwa “Doktrin politik Munzer selaras dengan konsep keberagamaannya, sebagaimana doktrin teologi dan politik terlalu maju untuk ukuran kondisi sosial kala itu, dan cenderung lebih dekat dan lebih modern dibandingkan Komunisme”. Kemudian, ada Raif Khoury yang merupakan seorang Kristen pengikut Marx yang berasal dari Libanon, yang  juga sama-sama memiliki kelindan antara agama dan ideologi kiri.

Secara tinjauan filosofis menurut Fayyadl, Islam dengan gerakan kiri seperti Komunisme ataupun Sosialisme memang tidak konvergen dan tidak divergen secara total. Kendati demikian, secara aksiologis ada beberapa titik temu bahwa Islam dan ideologi kiri lainnya sama-sama mengutuk keras dan terus melakukan perlawan terhadap sistem Kapitalisme yang eksploitatif, menindas dan tidak manusiawi.

Pada tulisan kakanda saya justru tidak melihat koherensi dan konsistensi narasi yang disampaikan. Satu sisi kakanda membenarkan secara eksplisit bahwa spirit Islam dan Komunisme memiliki semangat pembebasan yang sama, namun di sisi yang lain melakukan penolakan secara keseluruhan. yaitu meniadakan kesamaan pada level aksiolgis dari keduanya.

Seyogianya kita harus meneladani sikap Cak Nur sebagai bapak Ideologis HMI, yang menempuh perjalanan hidupnya melalui komitmen literasi yang tidak phobia, tendensius apalagi serampangan terhadap apapun yang belum datang atau sampai kepada kita. Bukan hanya itu saja, saking luwesnya pemikiran Cak Nur, Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI tak luput dari pengaruh Willy Eicher, seorang ideolog Partai Sosial Demokrat Jerman melalui karyanya The Fundamental Values and Basic Demand of Democratic Socialism atau Perjuangan Kita-nya Sjahrir yang mengutip Mein Kampf dari seorang Hitler.  

Cak Nur selalu berpesan bahwa sepantasnya kita terus mengambil “Kebenaran” dari manapun datangnya. Engineer pernah mengklaim bahwa sebelum Karl Max dan filosof kiri lainnya membicarakan soal struktur kelas, Nabi Muhammad telah mempraktikkan kemuka untuk melawan para Kapitalisme pada zamannya. Tapi setidaknya, hari ini kita harus berterimakasih kepada para filosof kiri dengan adanya mereka kita lebih banyak mengenal keilmiahan Kapitalisme berikut cara kerjanya.

Maka saya mengajak kakanda, sepatutnya kita tidak lagi risau terhadap kanan hijau-kiri merah atau semangka yang memiliki kulit hijau-isi merah dan menjadikannya virus mematikan bagi banyak orang, terlebih bagi kader HMI. Mengapa HMI justru membahas hal yang remeh-temeh dan mendangkalkan? Sudah waktunya HMI, terlebih umat Islam dan ideologi pembebasan lainnya, ngopi di meja perjuangan secara berjamaah. Sembari menyiapkan perkakas untuk melawan Kapitalisme yang lambat-laun akan memporak-porandakan dunia dan seisinya.

Senin, 09 Oktober 2017

Kuminisme dan Ketakutan Komunal


Hasil gambar untuk communist cartoon

Publik selalu terherah-heran ketika menghadapi akhir bulan September dan memasuki awal Oktober. Semacam ada kegagapan kondisi pada situasi yang berulang. Saya setidaknya mempercayai Mas Karl Marx yang mengatakan “sejarah mah datengnya gitu-gitu aja, ngapain lu pusingin tong!”. Kalau saja sampeyan hidup sejaman dengan generasi Z sekarang, pernyataan itu sangat menggelitik untuk didengar. Mungkin juga karena hidup kita yang terpaut jauh sama sampeyan kita jarang mendengar petuah-petuahnya.

Setiap 30 September selalu heboh dan gagapnya bukan main. Di media sosial menjadi gaduh tak seperti yang biasanya , orang-orang mendadak memperbincangkan Kuminisme (aksen orang-orang dulu). Yang lebih kerennya lagi, orang-orang mendadak seperti hidup sezaman dengan Mas Karl Marx dan lebih tau tentang pemikiran sampeyan. Padahal yang dibicarakan juga tidak dipahami. Itu sama seperti kita sedang ngelindur tapi memberi sebuah komentar. Jadi sulit membedakan antara imajinasi atau fantasi. Tapi ya sudahlah people zaman now memang tengah menghadapi kegagapan pada banyak persoalan.

Kuminisme menjadi suatu pembicaraan yang tidak boleh dilewatkan. Kalau terlewatkan akan menjadi sebuah kewajiban untuk mengqadha dihari berikutnya. Juga seperti ibu-ibu yang pantang untuk dipancing dengan barang baru tetangga. Kalau tidak beli tidak dianggap apdet. Topik Kuminise menjadi sebuah tren pergaulan di bulan september. Kalau tidak bicara Kuminisme ga beken. Selain itu, orang-orang juga sekarang mendadak multi profesi.

Beberapa minggu yang lalu saya tidak sengaja mendengarkan seorang pemuka agama di sebuah rumah ibadah membicarakan Kuminisme dan Mas Karl Marx dengan panjang lebar. Bak seorang yang berprofesi sebagai pengajar Filsafat sekaligus, yang berhak membicarakan materialismenya Mas Karl Marx dan Engel dengan begitu santainya atas nama agama. Atau dialektikanya Mas Karl Marx yang terilhami oleh Mas G. W. F Hegel. Tapi yang semprul­-nya lagi, apa yang disampaikan pemuka agama itu tidak memiliki relasi pemikiran dengan Mas Karl Marx. Tapi yowes rapopo yang penting dibahasnya ditempat ibadah dan yang membahasnya pun tokoh agama. Urusan benar dan salah belakangan yang penting ada agamanya.

Adalagi orang-orang yang bak sejarawan dan merasa tahu tentang Mas Karl Marx. ‘Merasa’ dirinya tahu saja tidak boleh, apalagi ini yang merasa paling tahu. Padahal epistem yang diperoleh hanya dari brodkesan dari satu pesan ke pesan lainnya. Yang kalau divalidasi isinya jauh panggang dari api. Kalau kata pedangdut Bang Rhoma Irama “sungguh terlalu”.

Ketika ada tokoh sekaliber Buya Syafii Ma’arif yang mengatakan bahwa “Kuminis telah menggali lubang kuburnya sendiri jangan dibongkar lagi untuk tujuan politik kekuasaan, sungguh tidak elok, sungguh tidak mendidik. Generasi baru Indonesia jangan diracuni oleh cara-cara politik yang tidak beradab”  tapi ko malah di enyek. Padahal Buya sangat tahu persis soal PKI, karena beliau adalah salah satu aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang juga turut andil untuk mempertahankan NKRI dengan sebuah tata nilai Pancasilanya.

Selain itu, Buya juga bukan orang receh seperti kita yang mendapatkan pengetahuan hanya dari brodkesan pesan-pesan tak mutu. Menelan banyak literasi adalah sebuah pilihan jalan hidupnya. Terlebih beliau adalah salah satu orang yang berinteraksi dengan Kuminisme secara langsung. Baik Kuminisme secara partai politik maupun underbouwnya. Jadi nasehat beliau sebagai orang tua patut dipikirkan dan diterima dibanding Jonru.

Francis Fukuyama dalam sebuah tesisnya The End of History and The Last Man sudah mempredikisi masa depan Kuminisme. “kalem aja tong, Kuminis mah udah masuk dalam kuburan sejarah karena ideologi pemenang dalam kompetisi ideologi global ya Demokrasi Liberal” beberapa penilaian Mas Francis Fukuyama adalah ideologi Kuminisme tidak lagi kompatibel terhadap perkembangan dunia pasca Demokrasi Liberal banyak melakukan hegemoninya.

Terbukti, tulang punggungya ideologi Kuminisme sudah tak lagi identik tjoy. Misal Uni Soviet di Eropa, yang sekarang menjadi Rusia telah terjangkit virus-virus Demokrasi dan Liberal yaitu dengan melakukan glanost (keterbukaan informasi publik) dan perestroika (transformasi politik dan ekonomi) di masa Mikhail Gorbachev pada periode 1980-an. Kalau kurang yakin, coba kita cek Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai tulang punggung Kuminisme di Asia, secara ekonomi doi semangatnya sudah Liberalisme mentok. Peradaban Kuminisme ternyata tidak mampu menggantikan Konfusianisme sebagai spirit Tiongkok. Tanpa Liberalisme ekonomi Tiongkok cenderung kaku dan ambles. Yang tersisa sih cuma politik yang masih pura-pura Kuminis aja.

Kalau waktu itu Mas Karl Marx  bersorban dan bergamis mungkin akan lain ceritanya di Indonesia. Bahkan boleh jadi Susialisme dan Kumunisme akan mendapat sertifikasi halal dari MUI sebagai ideologi yang tidak terlarang. Ya begitulah agama,  paling mujarab untuk dimonopoli, Kalau kata Kanjeng Ibnu Rush jika ingin menguasai atau memperdaya orang awam, bungkuslah perkara-perkara busuk dengan baju atau simbol agama.


Pada akhirnya saya juga bingung bagaimana meyakinkan orang-orang bahwa Kuminisme dan tetek bengeknya itu adalah dagangan politik yang ga laku. Katanya kita bangsa kesatria tapi kok seneng banget nakut-nakutin diri sendiri. Negara-negara tulang punggungnya saja sudah ga bersedia menjadi sarang Kuminisme apalagi di Indonesia. Kalau buat isu itu mbok ya yang menarik dan kreatif. Jangan isu-isu klasik tapi didaur ulang, kere cuk!